EKSPLORASI POTENSI GEOARKEOLOGI MATA AIR PANAS MANGESTA, KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN, PROVINSI BALI

I Putu Yuda Haribuana

Abstract


With the enactment of Jatiluwih region as a World Cultural Heritage, is expected to increase public awareness to preserve the environment. This research aims to determine the distribution of archaeological remains around the hot springs, knowing the process and the impact of emerging and its effect on the local community. Observation, open interviews and literature study methods are conducted in this research. Data analysis was performed with qualitative analysis, contextual and comparative. The result of this research has found a variety of archaeological remains around the hot springs at five Pura locations. The archaeological remains are from the classical period (Hindu-Buddhist) and most of the raw material are andesite. Mangesta hot springs exist because the presence of active volcanic pipe underneath Mount Batukaru which have been dormant.

Dengan ditetapkannya kawasan Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia, diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran tinggalan arkeologi di sekitar sumber air panas, mengetahui proses terjadinya dan dampak yang muncul dan pengaruhnya terhadap masyarakat setempat. Metode penelitian dilakukan dengan metode observasi, wawancara terbuka dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif, kontekstual dan komparatif. Dari hasil penelitian ditemukan beragam tinggalan arkeologi di sekitar mata air panas pada lima lokasi pura. Tinggalan arkeologi tersebut berasal dari masa klasik (Hindu-Budha) dan sebagian besar berbahan baku batuan andesit. Sumber mata air panas Mangesta muncul karena masih terdapatnya pipa vulkanik aktif di bawah Gunung Batukaru yang telah tidak aktif.


Keywords


Potensi, Tinggalan Arkeologi, Mata Air Panas

Full Text:

PDF

References


Bronto, Sutikno, dan Udi Hartono. 2006. Potensi Sumber Daya Geologi di Daerah Cekungan Bandung dan Sekitarnya. Jurnal Geologi Indonesia. 1 (1): 9-18.

Boulding, J. Russel dan Jon S. Ginn. 2004. Practical Handbook of Soil, Vadose Zone, and Ground-Water Contamination. New York: Lewis Publishers.

Dickson, Mary H. dan Mario Fanelli. 2004. What is Geothermal Energy? (http://www. geothermal-energy.org/geothermal_energy/) Diakses 13-10-2013.

Hadiwidjojo, M.M. Purbo. 1971. Peta Geologi Lembar Bali skala 1: 250.000. Bandung: Direktorat Geologi.

Haribuana, I Putu Yuda. 2011. Pemetaan Arkeologi dan Lingkungan di Kawasan Batur dan Sekitarnya. Forum Arkeologi. 24 (2): 139- 149.

Kusumawati, Ayu. 1989. Pengamatan Terhadap Tradisi Megalitik Penebel, Bali. Pertemuan Ilmiah Arkeologi V. Yogyakarta.

List of Mountain in Bali, 2013. (http://en.wikipedia. org/wiki/List_of_mountains_in_Bali). Diakses 23-10-2013.

Rafferty, John P. 2012. Geological Science. New York: Britannica Educational Publishing.

Sulistyanto, Bambang. 2009. Cultural Resource Management. Evaluasi Hasil Penelitian Puslitbang Arkenas. Solo.

Sumartono. 2004. Penyelidikan Geokimia Regional Sistematik Lembar Denpasar dan Mataram Provinsi Bali. ( h t t p : / / psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_ content&view=article&id). Diakses 5-10- 2013.

Thornbury, W.D. 1964. Principle of Geomorphology. New York, London: John Willey and Sons, Inc.

Utami, Luh Suwita dan I Putu Yuda Haribuana. 2013. Penelitian Peradaban Dalam Pengelolaan Sumber Air (Hidro-Arkeologi) di Kawasan Penebel Tabanan Bali. Laporan Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Denpasar.

Wardi, I Nyoman, I Gusti Alit Gunadi, I Nyoman Sedeng dan Abd. Rahman As-syakur. 2013. Pemberdayaan Tour Guide Ekotorisme di Kawasan Cagar Budaya Danau Tamblingan-Batukaru Bali. Jurnal Bumi Lestari. 13 (2): 441-454.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v26i3.47

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.