MOKO SEBAGAI MAS KAWIN (BELIS) PADA PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT ALOR

Putu Eka Juliawati

Abstract


The aims of this research are to describe the use of moko as dowry and to know the meanings of the use of moko as dowry in the life of Alor people. Data were collected by the method of observation, library research and interviews. This is a qualitative research. Data were analyzed with depth descriptive analysis and subsequently accommodated in the form of narrative. From the analysis, it is known that until this day, moko is still used as belis in which the bride grooms family has to give moko(s) to the brides family. The brides family has a right to decide what type and how many moko they want. They are opened for negotiation until both families reach an agreement. There are four meanings of the use of moko as belis that can be found namely the meaning of sacred marriage, identity, social and conservation.

Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan penggunaan moko sebagai belis, serta untuk mengetahui makna penggunaan moko sebagai belis dalam kehidupan masyarakat Alor. Data dikumpulkan dengan metode observasi, studi pustaka dan wawancara. Data dianalisis dengan metode deskriptif analitik mendalam diakomodasikan dalam bentuk naratif. Hasil analisis ditemukan bahwa sampai saat ini dalam perkawinan adat di Alor, moko masih digunakan sebagai belis dimana keluarga laki-laki wajib menyerahkan moko kepada keluarga perempuan yang akan dilamar. Persyaratan mengenai jenis dan jumlah moko yang digunakan berada sepenuhnya di tangan keluarga pihak wanita. Negosiasi masih boleh dilakukan pihak laki-laki hingga tercapai kata sepakat. Adapun makna penggunaan moko sebagai belis adalah makna sakralitas perkawinan, makna identitas masyarakat Alor, makna sosial dan makna konservasi.


Keywords


Nekara, Moko, Belis, Perkawinan, Alor.

Full Text:

PDF

References


Anonim. 1997/1978. Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo- Malaysia, Edisi Revisi. Jakarta: P.T Gramedia.

Bintarti, D.D. 2001. Nekara Tipe Pejeng: Kajian Banding dengan Nekara Tipe Heger I. Ringkasan Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Bungin, Burhan. 2003. Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Modal Penguasaan Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Gede, I Dewa Kompiang. 1995. Fungsi Moko dalam Kehidupan Masyarakat Alor. Forum Arkeologi. (2): 72-83.

___________________. 1997. Nekara sebagai Wadah Kubur Situs Manikliyu, Kintamani. Forum Arkeologi. (2): 39-53.

Hadiasman. Mas Kawin: Antara Cinta, Perstise dan Miskonsepsi, (http://www.academia. edu/1066775/Mas_Kawin_Antara_Cinta_ Prestise_Dan_Miskonsepsi, Diakses pada 26-08-2013).

Handini, Retno dkk. 2012. Penelitian Moko di Alor, Nusa Tenggara Timur, dalam Lintas Historis. Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Bronze Dong Son Kettle Drum. (http://www. asianart.com/asianartresource/d10479.html, Diakses pada 03-09-2013).

Koentjaraningrat. 1980. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

_____________. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI-PRESS.

_____________. 1990. Sejarah Teori Antropologi Jilid II. Jakarta: UI-PRESS.

Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia.

Pemerintah Daerah Kabupaten Alor. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 9 Tahun 1975 tentang Lambang Daerah Kabupaten Alor. (http://www.alorkab.go.id/webalor2012/ index.php/profil-daerah/arti-logo.html, Diakses 04-09-2013).

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho. 2008a. Sejarah Nasional Indonesia I Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

_____________.2008b. Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yoeti, H. Oka A. 2006. Dampak Pengembangan Pariwisata Sebagai Suatu Industri Terhadap Sosial dan Budaya. Dalam H. Oka A. Yoeti (Ed.). Pariwisata Budaya Masalah dan Solusinya: 129-139. Jakarta: Pradnya Paramita.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v26i3.44

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.