POLA PERSEBARAN TINGGALAN BUDAYA MEGALITIK DI LEUWISARI, TASIKMALAYA

Sudarti Prijono

Abstract


Ancient society determined the location for their settlement and activity according to particular zone and pattern. The existence of these sites is predicted to had been patterned. This study aims to reveal the distribution of megalithic sites in Leuwisari, as well other aspects related to adaptation strategy. The data were collected through survey and literature study. The data were analyzed through spatial archaeology and ecology approaches. The result of this study shows that
megalithic culture had been developed in this area with settlement pattern following river flow. Ancient society used natural resources to support their daily life and religious aspect.

Masyarakat masa lampau memilih lokasi beraktivitas dan bermukim dengan mengikuti pola dan zona tertentu. Keberadaan situs-situs ini diperkirakan telah terpolakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persebaran situs-situs budaya megalitik di wilayah Leuwisari serta aspek lain yang berkaitan dengan strategi adaptasi. Data dikumpulkan melalui survei dan studi kepustakaan.
Analisis data dilakukan dengan pendekatan arkeologi ruang dan ekologi. Hasil yang diperoleh memberikan gambaran bahwa di wilayah ini pernah berkembang budaya megalitik dengan pola penempatan situs yang mengikuti aliran sungai atau sumber daya air. Masyarakat masa lalu memanfaatkan sumber daya alam untuk mendukung kehidupan yang berkaitan dengan aspek religi dan permukiman.


Keywords


Punden, Sungai, Menhir, Permukiman.

Full Text:

PDF

References


Agus. 2005. Ragam Aktivitas di Gua Nangsi. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Bandung, Bandung.

Aziz, Fadhilla Arifin.1995. Situs Gilimanuk (Bali) Sebagai Pilihan Lokasi Penguburan Pada Awal Masehi. Berkala Arkeologi XV:43-46.

Eriawati, Yusmaini. 2004. Distribusi Tinggalan Megalitik di Jember, Jawa Timur Kaitannya Dengan Ketersediaan Batuan. Dalam Lingkungan Masa Lampau Beberapa Situs Arkeologi di Jawa Timur dan Bali, 48-61. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Handini, Retno. 2003. Pertanggalan Absolut Situs Kubur Kalang: Signifikasinya bagi Periodisasi Kubur Peti Batu di Daerah Bojonegoro dan Tuban, Jawa Timur. Berkala Arkeologi XXIII:24-38.

Mundarjito. 1995. Kajian Kawasan: pendekatan Setrategis Dalam Penelitian Arkeologi di Indonesia Dewasa ini. Berkala Arkeologi XV:25-28.

Prijono, Sudarti. 2014. Aspek-Aspek Arkeologis Pada Situs-Situs Bercorak Megalitik di Kawasan Bantarkalong Tasikmalaya. Purbawidya 3 (1): 1-16.

Siregar, Sondang. M. 2010. Pola Sebaran Situs-Situs Arkeologi Di Kaasan Danau Ranau. Siddhayatra 15 (2): 19-26.

Subroto, Ph. 1995. Pola-Pola Zonal Situs-Situs Arkeologi. Berkala Arkeologi XV:133-143.

Sudiono. 2004. Aspek Lingkungan Alam Yang Menunjang Kelangsungan Budaya Perundagian di Pesisir Pantai Tejakula, Bali. Dalam Lingkungan Masa Lampau Beberapa Situs Arkeologi di Jawa Timur dan Bali, 126-145. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Sukendar, Haris. 1991. Mata Pencaharian, Kemahiran Teknologi dan Sumber Daya Alam Dalam Hubungannya Dengan Eksistensi Megalitik di Dataran Tinggi Pasemah. Dalam Proceedings Analisis Hasil Penelitian Arkeologi II, 65-78. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sulistyarto, Priyatno Hadi. 2003. Hindunisasi di Kawasan Megalitik Gunung Slamet. Berkala Arkeologi XXIII:15-23.

http://www.tasikmalayakota.go.id. Gambaran Umum Kondisi Wilayah Tasikmalaya, diakses 24 Februari 2015.

Wikipedia. 2015. Kabupaten Tasikmalaya. https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tasikmalaya, diakses 24 Februari 2015.




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v28i2.22

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.