https://buero-paris.com/ https://sunmpo.com/ http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/issue/feed Forum Arkeologi 2021-11-08T21:44:52+07:00 Gendro keling gendro.keling@kemdikbud.go.id Open Journal Systems <table border="0"><tbody><tr><td valign="top"><img src="/public/site/images/gunkwahbayu/Cover_FA_untuk_Deskripsi-1_-_Copy.jpg" alt="" /></td><td> </td><td valign="top"><ul class="highlight"><li><strong>ISSN: <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1180432371" target="_self">0854-3232</a></strong></li><li><strong>E-ISSN: <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/1462767282" target="_blank">2527-6832</a></strong></li><li><strong>Accreditation LIPI: 772/AU1/P2MI-LIPI/08/2017</strong></li><li><strong>Accreditation RISTEKDIKTI: <a title="Link Akreditasi Sinta 2" href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=2830" target="_self">30/E/KPT/2018</a></strong></li></ul><br /><p align="justify"><strong>Forum Arkeologi</strong> Journal as a media for disseminating various information related to culture in the past, based on the results of archaeological research and cultural scientific studies. Forum Arkeologi Journal is a scientific journal published by Balai Arkeologi Bali since 1988. Starting from Volume 30 (2017), Forum Arkeologi Journal published twice a year. Each article published in Forum Arkeologi reviewed by at least two peer-reviewers who have the competence and appropriate field of expertise. Editorial received writings of archaeological research, history, ethnography, anthropology, and other supporting science related to human and culture. Forum Arkeologi is accredited as national scientific journal number 772 / AU1 / P2MI-LIPI / 08 / 2017 and 30 / E / KPT / 2018. Starting at the end of 2016, Forum Arkeologi begins to use electronic journal systems following technological and information developments and facilitate reader access.</p><p align="justify"> </p><p><strong>Redaksi Forum Arkeologi - Balai Arkeologi Bali</strong></p><p>Jl. Raya Sesetan No. 80 Denpasar</p><p>Telp. +62361 224703, Fax. +62361 228661</p><p>Email : balaiarkeologi.bali@kemdikbud.go.id</p><p>Website: balaiarkeologibali.kemdikbud.go.id</p></td></tr></tbody></table> http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/729 COVER FORUM ARKEOLOGI VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021 2021-10-31T08:37:23+07:00 Forum Arkeologi forumarkeologi@kemdikbud.go.id 2021-10-31T08:37:23+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/730 PREFACE FORUM ARKEOLOGI VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021 2021-11-08T21:44:52+07:00 Forum Arkeologi forumarkeologi@kemdikbud.go.id 2021-10-31T08:37:23+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/689 GAMBARAN ORGANISASI RUANG PADA RUMAH LAKSMANA MAEDA DI MENTENG, JAKARTA, BERDASARKAN HOUSEHOLD ARCHAEOLOGY 2021-10-31T08:37:24+07:00 Muhamad Alnoza procheez24@gmail.com Desfira Ramadhania Rousthesa rousthesad@gmail.com Garin Dwiyanto Pharmasetiawan procheez24@gmail.com <p>Maeda’s house is one of colonial houses with layout and furnitures that are still remained and maintained today. Through Maeda’s house, we could still study its inhabitants social values that are reflected from their remains. This study seeks to reconstruct the social values that existed at that time, through the spatial arrangement of Maeda’s house using household archaeology. The method used in analysing this problem consists of data collection, analysis and interpretation. Based on the studies that have been carried out, it can be seen that the spatial arrangement in Maeda’s house is related to the social class of its residents. Spatial planning in this case also includes accessibility, room size and facilities. This study also provides an overview of the hierarchical figure of Maeda in managing his house, as well as showing examples of the arrangement of luxury houses in Menteng during his time.</p><p> </p><p>Rumah Laksamana Maeda merupakan rumah yang kaya akan sejarah dalam perjalanan Indonesia menjadi negara. Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Rumah Laksamana Maeda adalah tata ruang dan perabotannya yang masih terjaga hingga sekarang. Rumah Laksamana Maeda dapat dikatakan masih mencerminkan nilai sosial yang ada pada masa itu. Kajian ini berusaha untuk merekonstruksi nilai sosial yang ada pada masa itu, melalui penataan ruang rumah Maeda dengan menggunakan paradigma arkeologi rumah. Metode yang digunakan dalam menjawab masalah ini terdiri dari pengumpulan data, analisis dan interpretasi. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa penataan ruang di rumah Maeda berkaitan dengan kelas sosial para penghuninya. Penataan ruang dalam hal ini adalah juga termasuk aksesibiltas, ukuran ruang dan fasilitas. Kajian ini juga memberikan gambaran mengenai sosok Maeda yang bersifat hirarkis dalam menata rumahnya, sekaligus juga menunjukkan contoh pola penataan rumah mewah di Menteng pada masanya.</p> 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/695 PLURALISME PADA MASA BALI KUNO ABAD IX-XIV BERDASARKAN REKAMAN ARKEOLOGI 2021-10-31T08:37:24+07:00 I Wayan Srijaya srijaya59@yahoo.com Kadek Dedy Prawirajaya R dedyprawirajaya@unud.ac.id <p>Pluralism is a diction that is used to express diversity, a reality that exists in this archipelago. It is an idea or view of life that recognizes and accepts the existence of pluralism or diversity in a community group. This plurality is represented by differences in terms of religions/beliefs, ethnicities, races, customs, languages, and cultures. Archaeological remains dating from the Hindu Buddhist era in Bali provide information on this diversity. Therefore, the aim of this study is to explain the diversity that is reflected in the archaeological records. The method used is observation, literature study, and qualitative analysis. Archaeological records dating from the IX to XIV century AD in Bali, both in the artifactual and textual indicate that Balinese people can live in harmony amidst differences. Different beliefs do not cause social tensions in society. Based on the existing archaeological records, Balinese people have shown diversity since the IX century AD. This diversity was maintained and nurtured by the rulers at that time so that tolerance was built between people of different religions/beliefs.</p><p> </p><p>Pluralisme merupakan diksi yang digunakan untuk menyatakan keberagaman, sebuah realita yang ada di bumi Nusantara ini. Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya kemajemukan atau keanekaragaman dalam suatu kelompok masyarakat. Kemajemukan tersebut direpresentasikan oleh adanya perbedaan dari sisi agama/ kepercayaan, suku, ras, adat istiadat, bahasa, dan budaya. Tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Hindu Buddha di Bali memberikan informasi keberagaman tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemajemukan yang yang tercermin pada rekaman tinggalan arkeologi tersebut. Metode yang digunakan adalah observasi, studi pustaka, serta analisis kualitatif. Rekaman arkeologi yang berasal dari abad IX-XIV di Bali, baik yang berupa artefaktual dan tekstual mengindikasikan bahwa masyarakat Bali dapat hidup secara harmonis di tengah-tengah perbedaan. Perbedaan keyakinan yang dianut tidak menimbulkan ketegangan sosial di masyarakat. Berdasarkan rekaman arkeologi yang ada, masyarakat Bali telah menunjukkan kemajemukan sejak abad IX. Keberagaman ini terus dipelihara dan dipupuk oleh para penguasa ketika itu sehingga terbangun toleransi di antara masyarakat yang berlainan agama/kepercayaannya.</p> 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/704 PEMULIAAN DEWI SRI DALAM AKTIVITAS DOMESTIKASI PADI DI BALI 2021-10-31T08:37:24+07:00 I Wayan Sugita wayansugita2@gmail.com I Wayan Suteja sutejawayann04@gmail.com I Nyoman Rema nyomanrema@yahoo.co.id <p>The Balinese agricultural culture has existed since prehistoric times, with the advent of agriculture, especially rice domestication, as an important cultivation to date, gave rise to the myth of Dewi Sri. This study aims to studying the breeding of Dewi Sri in rice domestication activities in Bali, whose data sources were collected through field observations by observing archaeological remains in the form of worship media, lontar manuscripts and inscriptions. Besides being complemented by literature studies of various relevant journals, book and reports. This research has succeeded in revealing that the breeding of Dewi Sri in Bali is very unique, it can be seen from her mention of her local name, the worship media and its symbols are also influenced by Balinese local wisdom. Breeding is also carried out with prayers and ceremonies that are balanced with maintaining and caring for rice and rice field in order to achieve maximum results.</p><p> </p><p>Budaya agraris masyarakat Bali telah ada sejak masa prasejarah, dengan munculnya pertanian domestikasi padi sebagai budidaya penting hingga saat ini, memunculkan mitos Dewi Sri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemuliaan Dewi Sri dalam aktivitas domestikasi padi di Bali, yang sumber datanya dikumpulkan melalui observasi di lapangan dengan mengamati tinggalan arkeologi berupa media pemujaan, manuskrip lontar dan prasasti. Selain itu dilengkapi dengan studi pustaka terhadap berbagai jurnal, buku dan laporan yang relevan. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa pemuliaan Dewi Sri di Bali sangat unik dapat dilihat dari penyebutan Dewi Sri dengan nama lokal, media pemujaan dan simbol-simbolnya juga dipengaruhi oleh kearifan lokal Bali. Pemuliaan juga dilakukan dengan doa dan upacara, diseimbangkan dengan memelihara dan merawat padi dan lahan persawahan, agar dapat mencapai hasil yang maksimal. </p> 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/713 RANGKA MANUSIA DARI BENDAHARA: SUDUT PANDANG PALEOPATOLOGI 2021-10-31T08:37:24+07:00 Ashwin Prayudi ashwin.prayudi@gmail.com Rusyad Adi Suriyanto rusyad_suriyanto@yahoo.co.id <p>This study discusses human remains from the Bendahara, Tamiang, which is located in Aceh. There is no information regarding the exact location and the date of this site. It can be ascertained that this skeleton originated from prehistoric periods based on the dental modifications evidences. This aims of this study is to identify the human remains from the Bendahara, Tamiang, Aceh by looking at sex, age at death, disease and the influences of cultural and environmental which recorded on the skeletons. This study used macroscopic and paleopathological analysis methods. The results of this study are this individual was female based on her skull. Her age at death between 20-30 years old. The abnormalities that these individuals have are only presents in their teeth, such as dental calculus, dental modification, and unbalanced attrition. This condition indicates that this individual predominantly chewing using one of the lateral sides of the mouth. If we connected her young age at death with the attrition, it is possible that this individual uses the right side of his teeth as a tool.</p><p> </p><p>Penelitian ini mendiskusikan sisa-sisa manusia dari Bendahara, Tamiang yang terletak di Aceh. Tidak terdapat keterangan mengenai lokasi pasti dan penanggalan dari situs ini. Rangka ini memiliki probabilitas yang tinggi berasal dari masa prasejarah berdasarkan bukti modifikasi pada gigi-giginya. Permasalahan penelitian ini adalah untuk mengetahui identitas biologis rangka dari Bendahara Tamiang dan kehidupannya pada masa lampau. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi individu sisa manusia dari Bendahara, Tamiang, Aceh dengan cara melihat jenis kelamin, umur ketika mati, penyakit, bukti kultural dan lingkungan yang terekam pada rangka tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis makroskopis dan paleopatologis. Hasil dari penelitian ini adalah individu berjenis kelamin wanita, dengan umur ketika mati sekitar 20-30 tahun. Kelainan yang dimiliki individu ini terdapat pada organ giginya yaitu kalkulus gigi, modifikasi gigi, dan adanya atrisi yang tidak seimbang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa individu ini mengunyah dengan dominan pada salah satu sisi lateral organ mulutnya. Jika dikaitkan dengan umurnya yang tergolong muda, terdapat kemungkinan bahwa individu ini menggunakan sisi kanan giginya sebagai alat bantu dalam melakukan pekerjaan. </p> 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/724 PENGARUH KESENIAN PĀLA TERHADAP GAYA SENI ARCA CANDI MENDUT 2021-10-31T08:37:24+07:00 Atina Winaya atina.winaya@gmail.com <p>Indian culture presents a massive influence in the Early Classic Period in Java. One of the traces found in arts. However, which part of Indian art influenced is rarely mentioned. Some scholars said it was Gupta Art’s influence enormously in the Early Classic Period. Is it just Gupta Art? or another else? This paper aims to add knowledge about another Indian art, namely Pāla Art, which also presents in the Early Classic Period. The style of Pāla Art affects the depiction of Candi Mendut’s sculptures. The data collection using observation techniques and description as well. The data analysis using a qualitative approach by descriptive analysis methods. And finally, the data interpretation using the results of comparative studies. The conclusion reveals the similarities between both data. However, Candi Mendut’s sculptures did not entirely absorb the foreign influences, but they show authentic attributes known as a character of classical Javanese Art.</p><p> </p><p>Kebudayaan India memberikan pengaruh yang besar terhadap periode Klasik Tua di Jawa. Jejak kebudayaan India, salah satunya nampak pada bentuk-bentuk kesenian. Meskipun demikian, selama ini jarang disebutkan secara terperinci kesenian India mana saja yang memengaruhi kesenian Jawa klasik. Beberapa ahli berpendapat bahwa kesenian Gupta yang memberikan pengaruh besar terhadap bentuk kesenian Jawa pada periode Klasik Tua. Namun, benarkah hanya kesenian Gupta semata? Tulisan ini bertujuan untuk menambahkan pengetahuan mengenai gaya seni India lainnya, yakni kesenian Pāla, yang juga ditemui pada periode Klasik Tua. Pengaruh kesenian itu terlihat pada penggambaran arca-arca candi Mendut. Telaah dihasilkan melalui tahapan kerja yang bertingkat-tingkat, dimulai dari pengumpulan data dengan cara mengamati dan mendeskripsikan data; pengolahan data melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif; serta penafsiran data berdasarkan hasil studi komparasi. Simpulannya memperlihatkan persamaan gaya seni yang membuktikan bahwa kesenian Pāla memberikan pengaruhnya terhadap gaya seni arca Candi Mendut. Meskipun demikian, pengaruh kesenian Pāla tidak serta merta diserap secara utuh, melainkan terdapat ciri khas yang ditemui pada arca Candi Mendut yang menjadikannya sebagai karakter kesenian Jawa klasik.</p> 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/731 APPENDIX FORUM ARKEOLOGI VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021 2021-11-01T21:28:39+07:00 Forum Arkeologi forumarkeologi@kemdikbud.go.id 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi http://forumarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/fa/article/view/732 BACK COVER FORUM ARKEOLOGI VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021 2021-10-31T08:37:24+07:00 Forum Arkeologi forumarkeologi@kemdikbud.go.id 2021-10-31T08:37:24+07:00 Copyright (c) 2021 Forum Arkeologi