PLURALISME PADA MASA BALI KUNO ABAD IX-XIV BERDASARKAN REKAMAN ARKEOLOGI

I Wayan Srijaya, Kadek Dedy Prawirajaya R

Abstract


Pluralism is a diction that is used to express diversity, a reality that exists in this archipelago. It is an idea or view of life that recognizes and accepts the existence of pluralism or diversity in a community group. This plurality is represented by differences in terms of religions/beliefs, ethnicities, races, customs, languages, and cultures. Archaeological remains dating from the Hindu Buddhist era in Bali provide information on this diversity. Therefore, the aim of this study is to explain the diversity that is reflected in the archaeological records. The method used is observation, literature study, and qualitative analysis. Archaeological records dating from the IX to XIV century AD in Bali, both in the artifactual and textual indicate that Balinese people can live in harmony amidst differences. Different beliefs do not cause social tensions in society. Based on the existing archaeological records, Balinese people have shown diversity since the IX century AD. This diversity was maintained and nurtured by the rulers at that time so that tolerance was built between people of different religions/beliefs.

 

Pluralisme merupakan diksi yang digunakan untuk menyatakan keberagaman, sebuah realita yang ada di bumi Nusantara ini. Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya kemajemukan atau keanekaragaman dalam suatu kelompok masyarakat. Kemajemukan tersebut direpresentasikan oleh adanya perbedaan dari sisi agama/ kepercayaan, suku, ras, adat istiadat, bahasa, dan budaya. Tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Hindu Buddha di Bali memberikan informasi keberagaman tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan kemajemukan yang yang tercermin pada rekaman tinggalan arkeologi tersebut. Metode yang digunakan adalah observasi, studi pustaka, serta analisis kualitatif. Rekaman arkeologi yang berasal dari abad IX-XIV di Bali, baik yang berupa artefaktual dan tekstual mengindikasikan bahwa masyarakat Bali dapat hidup secara harmonis di tengah-tengah perbedaan. Perbedaan keyakinan yang dianut tidak menimbulkan ketegangan sosial di masyarakat. Berdasarkan rekaman arkeologi yang ada, masyarakat Bali telah menunjukkan kemajemukan sejak abad IX. Keberagaman ini terus dipelihara dan dipupuk oleh para penguasa ketika itu sehingga terbangun toleransi di antara masyarakat yang berlainan agama/kepercayaannya.


Keywords


Pluralisme; Bali Kuno; Agama; Tinggalan Arkeologi

Full Text:

PDF

References


Agastya, Ida Bagus Gde. 2002. “Padmasana Dan Siwa—Buddha Puja.” dalam Siwa-Buddha Puja Di Indonesia, 162-163. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Ardika, I Wayan, I Gde Parimartha, and Anak Agung Bagus Wirawan. (Editor) 2013. Sejarah Bali Dari Prasejarah Hingga Masa Modern. Denpasar: Udayana Press.

Astawa, Anak Agung Gede. 2007. “Bukti-Bukti Awal Agama Buddha Di Gianyar Dan Buleleng, Bali Abad IX-XII M.” Majalah Sudamala 11 (01): 05-10.

Bagus, Anak Agung Gde, and I Nyoman Rema. 2017. “Keharmonisan Dalam Tinggalan Arkeologi Di Pura Dangka Tembau Denpasar.” Forum Arkeologi 30 (02): 65-76.

Dewantara, Anak Agung Gede Raka. 2019. “Arca Hindu-Buddha Di Pura Agung Batan Bingin Pejeng Kawan Tampaksiring, Gianyar: Kajian Ikonografi Dan Fungsi.” Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Goris, R. 1974. Sekte-Sekte Di Bali. Jakarta: Bhratara.

Kawuryan, Sekar Purbarini. 2009. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Jurusan PPSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Mantra, Ida Bagus. 2002. “Pengertian Siwa-Buddha Dalam Sejarah Indonesia.” dalam Siwa- Buddha Puja di Indonesia, 25. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Moleong, Lexy J. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Raka, Anak Agung Gede. 1985. “Arca Pancuran Di Desa Pejeng Dan Bedulu”. Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Rema, I Nyoman. 2014. “Arca Ganesa Dalam Sikap Swastikasana.” Forum Arkeologi 17 (2): 155- 168.

______________. 2016. “Transformasi Ideologi Hariti Di Bali.” Forum Arkeologi 26 (2): 109-124.

Santiko, Hariani. 2013. “Toleransi Beragama Dan Karakter Bangsa: Perspektif Arkeologi.” Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, 6-8.

Saputra, I Made Linggar. 1986. “Lingga Pada Beberapa Pura Di Desa Pejeng Dan Bedulu (Kajian Konsepsi)”. Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Semadi Astra, I Gde. 2008. “Sekte-Sekte Pada Masa Bali Kuno Berdasarkan Rekaman Prasasti.” dalam Dinamika Masyarakat Bali dalam Lintasan Sejarah, 22-35. Denpasar: Swasta Nulus.

Soebadio, Haryati. 1971. Jnanasiddhanta. Jakarta: Djambatan.

Soemadio, Bambang. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Srijaya, I Wayan, dan I Gusti Ngurah Tara Wiguna. 2018. Pemanfaatan Warisan Budaya Dunia DAS Pakerisan Dan Petanu Sebagai Obyek Wisata Di Kabupaten Gianyar. Laporan Penelitian, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Stutterheim, W. F. 1929. Oudheden Van Bali. Singaradja.

Suantra, Made, and I Wayan Muliarsa. 2006. Pura Pegulingan, Tirtha Empul, Dan Goa Gajah. Gianyar: Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali.

Suarbhawa, I Gusti Made. 2010. Potensi Sumberdaya Arkeologi Di DAS Kecamatan Kintamani, Bangli. Laporan Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Bali, Denpasar.

Sugriwa, I Gusti Bagus. 2002. “Siwa-Buddha Bhineka Tunggal Ika.” dalam Siwa-Buddha Puja di Indonesia, 13-40. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Sumerata, I Wayan, dan Dewa Gede Yadhu Basudewa. 2016. “Arca Bercorak Siwaisme Di Kota Denpasar, Bali”. Forum Arkeologi 9 (2): 93–104.

Tanudirjo, Daud Aris. 2011. “Membangun Pemahaman Multikulturalisme: Perspektif Arkeologi” dipresentasikan pada seminar Multikuturalisme dan Integrasi Bangsa dalam Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, Solo.

Wenten, I Nyoman. 1984. “Ragam Hias Beberapa Arca Ganesa Di Desa Pejeng Dan Bedulu”. Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Wira Darma, I Kadek Sudana. 2018. “Pengarcaan Dewa Wisnu Pada Masa Hindu-Buddha Di Bali (Kajian Ikonografi)”. Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

Wirjosoeparto, Soetjipto. 1966. “Dua Buah Arca Wisnu dari Cibuaya”. dalam Majalah Ilmu Sastra Indonesia, 45. Jakarta: Fakuktas Sastra Universitas Indonesia.

Lontar Agama Siwa-Buddha (salinan koleksi Gedong Kirtya Singaraja).

Website:

https://posbali.co.id/empat-situs-di-gianyarditetapkan- sebagai-cagar-budaya/ diakses tanggal 1 Juli 2021




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v34i2.695

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.