PERILAKU KONSUMSI KERANG OLEH MASYARAKAT PESISIR DESA HALERMAN, ALOR BARAT DAYA, NUSA TENGGARA TIMUR

Yuni Suniarti, nfn Mahirta, Susan Lilian O'Connor, Widya Nayati

Abstract


Exploitation of aquatic resources has been carried out since the time of hunting and gathering food. Aquatic resources are generally exploited by communities or people living in coastal areas. One area that still exploits aquatic resources is Halerman Village, Alor Barat Daya Regency. People who live on the coast use marine resources as food, one of which is shellfish. The most shellfish that widely exploited is Haliotidae. Research question brought in this article is how shellfish consumption behavior of people in Halerman Village is. The purpose of this research is to record shellfish consumption behavior of people in Halerman Village. The research method used was in the form of observation and interviews regarding all stages of shellfish exploitation conducted by Alor coastal communities in Halerman Village. The use of shellfish is closely related to the consumption behaviors of the community which consists of the search for shellfish carried out during periods of low tide when the intertidal area is exposed. When collecting the shellfish, people use various equipment such as iron, wood, stone, baskets and buckets. The method of processing is done by gouging, burning, boiling, cooking with spices and breaking the shell using stones or other hard tools. Shellfish processing in archaeological assemblages can be demonstrated by the presence of breakage and/or burning patterns on the shell remains. These experimental and ethno-archaeological observations can be used as a reference for understanding the behaviour that resulted in the formation of shells in archaeological deposits.

 

Pemanfaatan sumber daya akuatik telah dilakukan sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan. Sumber daya akuatik pada umumnya dieksploitasi oleh komunitas atau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Salah satu daerah yang masih melakukan eksploitasi sumber daya akuatik yaitu Desa Halerman, Kabupaten Alor Barat Daya. Masyarakat yang bertempat tinggal di pesisir memanfaatkan sumber daya laut sebagai bahan pangan, salah satunya kerangkerangan. Salah satu jenis kerang yang banyak dieksploitasi yaitu Haliotidae. Rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Tujuan Penelitian untuk mendokumentasikan perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Metode penelitian yang digunakan berupa observasi partisipasi dan wawancara yang dilakukan kepada masyarakat pesisir Alor di Desa Halerman. Pemanfaatan kerang erat kaitannya dengan perilaku konsumsi masyarakat yang terdiri dari waktu pencarian kerang, cara pemilihan dan proses pengambilan, alat yang digunakan serta cara pengolahan kerang. Waktu pencarian kerang dilakukan meting surut (air laut surut) pada saat area intertidal terbuka. Jenis kerang yang dikonsumsi pada umumnya jenis kerang yang hidup di area low dan middle intertidal, akan tetapi salah satu jenis yang paling banyak dicari merupakan jenis kerang abalone (Haliotidae), alat yang digunakan untuk mencari kerang berupa besi, kayu, batu, keranjang dan ember. Cara pengolahan yang dilakukan dengan cara dicungkil, dibakar, direbus, dimasak bersama bumbu dan dipecahkan cangkangnya menggunakan batu atau alat keras lainnya. Pola pecah atau bekas pembakaran pada cangkang kerang dapat menjadi referensi untuk penelitian arkeologi yang berkaitan dengan pola kerusakan cangkang kerang pada deposit arkeologi.


Keywords


Alor Island; Consumption behavior; Shellfish.

Full Text:

PDF

References


Amelia, Friski. 2008. “Konsumsi pangan, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, dan status gizi pada remaja di Kota Sungai penuh Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi”. Diakses dari website: www.repository.ipb.ac.id

Bailey, G.N. 1978. Shell Middens as Indicators of Postglacial Economies: a Territorial Perspective. The Early Postglacial Settlement of Northern Europe hlm. 37-63. London. diakses dari https://www.researchgate.net/ publication/292335207

Bailey, G.N. 2004. World Prehistory From the Margins: The Role of Coastlines in Human Evolution. Journal of Interdisciplinary Studies in History and Archaeology Vol 1: 39 -50.

Bird, J. 1946. The Alacaluf. In Handbook of South American Indians, edited by j. h. Steward. Smithsonian Institution, Bureau of American Ethnology 143 (1): 55-80.

Budiman. 2003.Pemanfaatan Moluska di Song (Gua) Terus, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan Jawa Timur. Skripsi Sarjana. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Classen, Cheryl. 1998. Shells. Cambridge: Cambridge University press.

Erlandson, Jon M. 2001. The Archaeology of Aquatic Adaptations: Paradigms for a New Millennium. Journal of Archaeological Research Vol.9 No 4: 287-350. Plenum Publishing Corporation.

Gabbi, Giorgio. 1999. Shells: Guide to the Jewels Of Sea. Italy: Peripulus Edition HK (Ltd).

Gifford, E. W. 1939. The Cost Yuki. Antrophos 34: 292-375.

Klein, Richaed, G., Steele, Teresa, E., 2013. Archaeological shellfish size and later human evolution in Africa. PNAS (110). hlm: 10910- 10915.

Linares de Sapir, O. F. 1971. Shell middens of Lower Casamance and problems og Diola protohistory. West African Journal of Archaeology 1: 23-54.

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropogi. Jakarta: UI Press.

Luebbers, R.A. 1978. “Meal and Menu: a study of change in prehistory coastal settlement in South Australia”. Diakses dari website: https://digitalcollections.anu.edu.au/

Meehan, B. 1977. Man Does Not Live by Calories Alone : The Role of Shellfish in a Coastal Cuisine in J. Allen, J. Golson and R. Jones (eds.), Sunda and Sahul London: Academic Press, 493-531.

O’Connor, S., Louys, Julien., Kealy, Shimona., Samper-Carro, Sofia C. 2017. Hominin Dispersal and Settlement East of Huxley’s Line: The Role Of Sea-Level Changes, Island Size, and Subsistence Behavior. Current Anthropology Vol.58 No. S17: S000. The University of Chicago Press Journals

Riski, Rahmat. 2009. “Analisa Pasang Surut”. Diakses dari website: https://rahmatriski. com/2009/01/22/analisa-pasang-surut/

Samper-Carro, S.C., O’Connor, Sue., Louys, Julien., Hawkins, Stuart., Mahirta . 2015. Human Maritime Subsistence Strategies in the Lesser Sunda Islands During the Terminal Pleistocene/early Holocene: New Evidence from Alor, Indonesia. Quaternary International : 64 - 79. Elsevier Ltd.

Sari, Devi Mustika. 2018. Pemanfaatan Sumber Daya Kerang Pada Masa Transisi Plestosen Akhir-Holosen Awal Di Situs Gua Makpan, Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Sebayang, Agnes Natalia. 2012. Gambaran pola konsumsi makanan mahasiswa di UI depok. Skripsi Sarjana. Depok: Universitas Indonesia.

Siburian, Robert., Soediyono., Tambunan, Sihol Farida., Haba, John. Meretas Masalah Perpanganan di Kabupaten Alor Dulu, Kini, dan Masa Mendatang. 2011. Jurnal Masyarakat & budaya. Volume 13 No. 1: 140-166. Statistik Daerah Kabupaten Alor. 2008. Badan Pusat

Statistik Kabupaten Alor. Diakses dari wensite: https://alorkab.bps.go.id/ publication.html.

Statistik Daerah Kabupaten Alor. 2016. Badan Pusat Statistik Kabupaten Alor. Diakses dari wensite: https://alorkab.bps.go.id/ publication.html.

Suniarti, Yuni. 2017. “Perilaku Konsumsi Kerang Pada Komunitas Penghuni Situs Gua Sorot Entapa (HSE), Pulau Kisar, Maluku Barat Daya”. Skripsi. Universitas Gadjah Mada.

Surinati, Dewi. 2007. Pasang Surut dan Energinya. Oseana, Volume XXXII, Nomor 1, Tahun 2007 : 15-22

Voris, H.K. 2000. Maps of Pleistocene sea levels in Southest Asia: Shorelines, River Systems and Time Durations. Journal of Biogeography, 27: 1153-1167.

Waselkov, Gregory. A. 1987. “Shellfish Gathering and Shell Midden Archaeology”. Diakses dari website: www.academia.edu




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v32i2.556

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.