EKSISTENSI KAMPUNG ADAT DI SUMBA TENGAH

Nyoman Arisanti

Abstract


This study aims to see how traditional villages become a marker of the cultural identity of the people of Central Sumba, and also to determine the ideology that exists within traditional villages, and other factors that also lies behind that. The theory used to examine this research problem are semiotic theory, ideological theory, and theory practices. Data collection techniques were carried out by interviews, observations, documentation, and surveys. Data analysis techniques used contextual analysis and comparative analysis. The cultural identity of the peoples of Central Sumba are characterized by traditional houses, rituals of marapu, and megalithic traditions. The existence of traditional villages in Central Sumba is motivated by the ideology of marapu. Besides that, the Regional Government of Central Sumba Regency also gives efforts to preserve traditional villages. The way the indigenous community overcomes resistance and adaptation are the main points in maintaining the existence of traditional villages.

 

Tradisi megalitik di Sumba tidak terlepas dari komunitas adat yang melangsungkan tradisi marapu. Komunitas adat di Sumba Tengah hidup dalam suatu kawasan yang disebut kampung adat. Perkembangan globalisasi telah menyebabkan agama-agama modern masuk ke dalam tatanan masyarakat Sumba. Meskipun demikian, komunitas adat tetap eksis ditengah pergulatan modernitas yang cenderung mengikis kebudayan-kebudayaan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kampung adat menjadi penanda identitas budaya masyarakat Sumba. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui ideologi dibalik tetap eksisnya kampung adat dan faktor-faktor lain yang melatar belakangi eksistensi kampung adat di Sumba Tengah. Teori yang digunakan untuk mengkaji masalah penelitian ini adalah teori semiotika, teori ideologi, dan teori praktik yang digunakan secara eklektik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dokumentasi, dan survei untuk membandingkan tradisi dan tinggalan budaya antar kampung adat. Teknik analisis data yang digunakan analisis kontekstual dan analisis komparatif. Identitas budaya masyarakat Sumba Tengah ditandai dengan rumah adat, ritual marapu, dan tradisi megalitik. Eksistensi kampung adat di Sumba Tengah didukung oleh ideologi marapu. Selain itu, perkembangan industri pariwisata Sumba Tengah telah menjadikan kampung adat sebagai objek wisata handalan, yang berperan dalam menjaga eksistensi komunitas di kampung adat. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Tengah, juga turut berperan dalam upaya pelestarian kampung adat dengan melakukan langkah-langkah pelestarian budaya. Cara komunitas adat mengatasi resistensi dan adaptasi terhadap perkembangan agama-agama modern menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi kampung adat di Sumba Tengah.


Keywords


eksistensi; kampung adat; identitas budaya; Sumba Tengah

Full Text:

PDF

References


Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Tengah. 2017. Sumba Tengah Dalam Angka (Sumba Tengah Regency in Figures) 2017. Waikabubak: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Barat diunduh dari https://sumbatengahkab.bps.go.id/public ation/2017/08/11/8ddedbd7b5b40d878b eba9a3/kabupaten-sumba-tengah-dalamangka- 2017.html tanggal 29 Nopember 2018

Benny H Hoed. (2008). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. (Y. F. & A. H. Soewarno, Ed.) (Pertama). Depok: Komunitas Bambu.

Cavallaro, Dani. 2004. Critical and Cultural Theory: Teori Kritis dan Teori Budaya. (Laily Rahmawati, Pentj). Yogyakarta: Niagara.

Geria, I. M. (2014). Kearifan Ekologis Kampung Megalitik Rindi Praiyawang, Sumba Timur. Forum Arkeologi Volume 27, Nomor 2, Agustus 2014

Leyloh, Y. A. . Y. (2007). Identitas Penganut Marapu Berhadapan dengan Gereja dan Program Pariwisata di Sumba Barat-NTT. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. https:// repository.usd.ac.id/1783/2/026322014_Full. pdf diunduh tanggal 29 Nopember 2018

Lull, James. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaan: Suatu Pendekatan Global. (A. Setiawan Abadi, Pentj). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Saraswati, T., Adrianus, M., Day, R., Kristen, U., & Wacana, D. (2004). Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah Sebaga Living Museum. In Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali- 2017 (pp. 1–10).

Soeriadiredja, P. (2013). Marapu: Konstruksi Identitas Budaya Orang Sumba, NTT. Antropologi Indonesia; Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology, 34(1), 59–75.

Suarbhawa dkk (Tim Peneliti). 2018. Laporan Penelitian dan Kajian Arkeologi Terhadap Lima Kampung Adat di Sumba Tengah. Balai Arkeologi Bali. Denpasar

Sukendar, Haris. 2003. Masyarakat Sumba dengan Budaya Megalitiknya. Jakarta: Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Pusat Penelitian Arkeologi. http:// e-resources.perpusnas.go.id:2069/uploads/ ebook/076/#/2/ diunduh tanggal 11 Juli 2019

Sukendar, Haris dan Ayu Kusumawati. 2003. Sumba, Religi dan Tradisinya. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.

Takwin, Bagus. 2009. “Proyek Intelektual Pierre Bourdieu: Melacak Asal-usul Masyarakat, Melampaui Oposisi Biner dalam Ilmu Sosial” dalam Harker, Richard., Mahar, Cheelen., dan Wilkes, Chris., editors. (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. (Pipit Maizier, Pentj). Yogyakarta: Jalasutra. Hal. xv-xxv

William, Patrick, and L. chrisman. (2018). Colonial Discourse and Post Colonial Theory: a reader. https://doi.org/10.1186/1475-925X-8-28 diunduh tanggal 1 Desember 2018




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v32i2.553

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.