CANDI KETHEK: KARAKTER DAN LATAR BELAKANG AGAMA

Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari, I Wayan Sumerata

Abstract


Each temple building has style and character building its own and built on background a reliegion. As submitted by Soekmono that the temple located in central Jawa with temple in eastern Jawa has style that is different, foundation worship of different. This article presented characters and religious background of Kethek Temple. Goal was to provide information about history of Gunung Lawu. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative, comparative, and kontekstual with symbol theory. Result showed that Kethek Temple has special characteristic; is structured from unprocessed andesite. It utilized the wide natural rock order for terrace border, likes was seen on second and third terrace. Religious background Kethek Temple is Hindu. This was based from finding of turtle sculpture in which is symbol Vishnu. Elements worships toward accentors were still visible, considering terraces is form mountain in which was believed as place where the soul of ancestors live.

 

Setiap bangunan candi memiliki gaya dan karakter bangunan tersendiri dan dibangun atas latar belakang agama tertentu. Salah satunya Candi Kethek, yang juga memiliki gaya, karakter, dan latar belakang agama tertentu. Atas pernyataan itu, maka penelitian ini berusaha mengungkap karakter bangunan dan latar belakang agama yang mendasari pendirian Candi Kethek. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif, komparatif, dan kontekstual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Candi Kethek mempunyai karakter yang khusus, yaitu tersusun oleh batuan andesit yang tidak mengalami pengerjaan secara menyeluruh. Memanfaatkan tatanan batuan alam yang cukup besar untuk memberi batas teras, seperti yang terdapat pada teras dua dan tiga. Latar belakang agama Candi Kethek bersifat Hinduistik. Hal ini bersandar pada temuan arca kurakura yang merupakan simbol dari Wisnu. Anasir pemujaan terhadap roh nenek moyang juga masih terlihat. Mengingat teras berundak merupakan wujud dari gunung, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya leluhur yang telah meninggal.


Keywords


Candi Kethek; Teras Berundak; Hinduistik.

Full Text:

PDF

References


Afriono, Rizky. 2011. “Identifikasi Komponenkomponen Bangunan Berundak Kepurbakalaan Situs Gunung Argopuro.” Skripsi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Darmosoetopo, Riboet, Sumijati Atmosudiro, Tri Hartono, Gutomo, Septina Wardhani, Wahyu Kristanto, Sunarno, dan Yanuar Wijanarko. 2016. Peninggalan Arkeologi di Lereng Barat Gunung Lawu. Klaten: Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.

Harisusanto, Teguh R.A. 1999. “Bangunan Teras Berundak Masa Majapahit Abad ke-14-16 M: Suatu Kajian Arsitektural.” Tesis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Ismail, Agus, 1993. “Peranan Keramik Asing pada Penelitian Arkeologi di Kecamatan Trowulan (Penelitian pada Koleksi Suaka Sejarah dan Purbakala).” Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Maulana, Ratnaesih. 1984. Ikonografi Hindu. Jakarta: Universitas Indonesia.

________________. 1996/1997. “Perkembangan Seni Arca di Indonesia.” Laporan Penelitian, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

Munandar, Agus Aris. 1990. “Kegiatan Keagamaan di Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad ke-14-15 M.” Tesis, Universitas Indonesia.

________________. 2011. Catuspatha: Arkeologi Majapahit. Jakarta: Wedatama Widya Sastra

Natalia, Widya Prima. 2012. “Masjid Raya Ganting di Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat: Kajian Bentuk dan Fungsi.” Skripsi, Denpasar: Fakultas Sastra dan Budaya Uiversitas Udayana.

Priyanto H.S. 1999. “Pergeseran Pusat Upacara di Situs Megalitik Puncak Gunung Lawu.” Berkala Arkeologi. 19 (1): 89-106.

Purwanto, Heri. 2017. “Beberapa Keistimewaan Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar.” Jurnal Sejarah Candra Sengkala. 08 (16): 35-45.

____________. 2017. “Kehidupan Beragama di Lereng Barat Gunung Lawu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Abad ke-14-15 Masehi.” Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

____________. 2017. “Candi Sukuh sebagai Tempat Kegiatan Kaum Rsi.” Berkala Arkeologi. 37 (1): 69-84.

Santiko, Harani. 1994. “Pengertian Triwikrama pada Masyarakat Jawa Kuna.” Laporan Penelitian, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sukendar, Haris, Truman Simanjutak, Yusmaini Eriawati, Machi Suhadi, Bagyo Prasetyo, Naniek Harkantinigsih, dan Retno Handani . 1999. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Suprapta, Blasius, M. Dwi Cahyono, Ismaul Lutfi. 1997/1998. “Kultus Kesuburan dalam Seni Bangun Keagamaan pada Lereng Barat Gunung Lawu (Abad ke-14-15M): Kajian Makna Relegius dengan Model “Sistem Trikhotomi” Terhadap Tanda Ikonografi dan Relief.” Laporan penelitian, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Malang.

Tim Penyusun. 2005. Eksavasi Penyelamatan Situs Candi Kethek. Laporan Penelitian, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Prambanan.

Titasari, Coleta Palupi. 2000. “Kepurbakalaan di Situs Wringin Branjang Kabupaten Blitar, Jawa Timur.” Skripsi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Wahyudi, Wanny Rahardjo. 2012. Tembikar Upacara di Candi-Candi di Jawa Tengah Abad ke-8-10 M. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

www.karanganyarkab.go.id/




DOI: http://dx.doi.org/10.24832/fa.v30i2.226

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

__________________________________________________________________________________________________________________________

Copyright of Journal Forum Arkeologi (e-ISSN:2527-6832, p-ISSN:0854-3232). 

       Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License